Bongkar News

Humanis dan Produktif, Lapas Cibinong Ubah Stigma Penjara Menjadi Ruang Pembinaan






Bongkar merdeka.com |Bogor,

Gambaran suram tentang penjara perlahan berubah ketika memasuki kawasan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong. Penjagaan ketat memang tampak di pintu masuk. Setiap kendaraan yang datang diperiksa dengan prosedur keamanan yang disiplin. Namun, suasana kaku justru tidak terasa.

“Selamat siang, mau ke mana Pak?” sapa salah satu petugas dengan ramah kepada pengunjung yang datang.

Keramahan itu menjadi kesan pertama saat tim wartawan memasuki area lapas. Setelah melalui pemeriksaan dan prosedur administrasi, gerbang utama dibuka. Di balik tembok tinggi dan pagar besi, suasana yang terlihat justru cukup asri. Taman tertata rapi berdiri di depan area masuk, sementara deretan kafe dan tempat makan berjajar melayani keluarga warga binaan yang datang membesuk.

Suasana tersebut membuat kesan menyeramkan sebuah penjara perlahan memudar. Meski begitu, nuansa lapas tetap terasa ketika memasuki area dalam yang dipenuhi jeruji besi dan ruang kunjungan yang ramai oleh keluarga warga binaan.

Di tengah berbagai tantangan pemasyarakatan, Lapas Cibinong kini terus bertransformasi. Tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga mengembangkan pelayanan publik, pembinaan keterampilan, penguatan UMKM, hingga program ketahanan pangan berbasis produktivitas.

Pelayanan Humanis dan Bebas Pungli

Transformasi pelayanan menjadi salah satu wajah baru Lapas Cibinong. Sistem kunjungan kini sudah berbasis digital melalui aplikasi Smartpas sehingga proses antrean menjadi lebih cepat dan tertib.

Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat), Ricky Robby R, menjelaskan bahwa pengunjung dapat melakukan pendaftaran sejak sehari sebelum jadwal kunjungan.

“Maksimal H-1 sebelum kunjungan mereka sudah bisa mendaftar lewat aplikasi Smartpas menggunakan smartphone. Setelah sampai di sini tinggal scan dan cetak tiket lalu langsung pemeriksaan,” ujarnya dikutip dari media topikonline. Tgl (10/5/2026).

Jadwal kunjungan dibuka setiap Senin hingga Kamis pukul 09.00–15.00 WIB dan Sabtu hingga pukul 12.00 WIB.

Pelayanan tersebut mendapat apresiasi dari keluarga warga binaan. Ela (38), warga Cileungsi yang rutin membesuk keluarganya terkait kasus narkoba, mengaku proses pelayanan kini jauh lebih mudah.

“Pelayanannya baik, tidak ribet. Bisa lewat online, datang langsung juga tidak harus lama,” katanya.

Ia juga mengaku tidak pernah menemukan praktik pungutan liar selama membesuk.

“Alhamdulillah tidak ada pungli. Saya puas dengan pelayanan di sini,” tambahnya.

Di area tunggu, pengunjung juga disediakan fasilitas minuman seperti kopi dan teh gratis. Selain itu terdapat Pos Bapas yang melayani konsultasi maupun pelaporan rutin keluarga warga binaan.

Meski jumlah pengunjung cukup tinggi, pihak lapas tetap mengatur durasi kunjungan agar suasana tetap kondusif.

“Kalau sudah terlihat penuh, pengunjung baru kami imbau menyesuaikan waktu karena durasi kunjungan sekitar 30 menit,” ujar salah satu petugas.

Namun apabila kondisi tidak terlalu padat, keluarga warga binaan tetap diberi kelonggaran waktu hingga jam kunjungan berakhir.

Klinik Pratama Layani Warga Binaan dengan Pendekatan Kemanusiaan

Tak hanya pelayanan kunjungan, bidang kesehatan juga menjadi perhatian serius. Melalui Klinik Pratama Lapas Cibinong, pelayanan kesehatan diberikan secara maksimal dan penuh kehati-hatian.

“Kami melayani dengan hati sepenuh hati dan berhati-hati. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” ujar salah satu petugas kesehatan.

Pendekatan humanis itu menjadi bagian dari upaya lapas menghadirkan pembinaan yang lebih manusiawi bagi warga binaan.

UMKM “Cibiku”, Warga Binaan Produksi Mie Ayam hingga Donat Premium

Program pembinaan kemandirian menjadi salah satu sektor unggulan di Lapas Cibinong. Berbagai produk hasil karya warga binaan kini berhasil dipasarkan ke masyarakat.

Mulai dari bakso urat, mie ayam, roti, kopi, tanaman hias hingga donat kentang premium diproduksi langsung di dalam lapas.

Salah satu yang menarik perhatian adalah mini kafe “Cibiku Cafe and Bakery”, etalase produk warga binaan yang kini ramai dikunjungi keluarga pembesuk.

“Dulu ini lahan kosong. Karena banyak produk buatan warga binaan yang harus diapresiasi, akhirnya dibuat mini kafe ini,” ujar Kepala Seksi Kegiatan dan Kerja Lapas Cibinong, Tunggadewi Ratu Wardhani.

Nama “Cibiku” sendiri merupakan singkatan dari “Cibinongku”. Produk kuliner tersebut dikelola langsung oleh warga binaan melalui program pembinaan kerja.

“Kita sediakan sendiri bahan bakunya, termasuk mie dan pangsit dibuat sendiri di sini,” jelas Ratu.

Produk “Cibiku” bahkan mulai menerima pesanan untuk berbagai acara seperti pernikahan, ulang tahun, arisan hingga sunatan.

Selain mie ayam dan bakso, produk unggulan lain adalah donat premium merek “Prabu Dana”.

“Awalnya donat kampung biasa, sekarang di-upgrade menjadi donat kentang dengan bahan premium dan kualitas lebih baik,” katanya.

Pemasaran dilakukan melalui koperasi, media sosial hingga berbagai pameran UMKM. Produksi roti bahkan mencapai sekitar 300 buah per hari.

Warga Binaan Dapat Premi untuk Bantu Keluarga

Program pembinaan kerja juga memberikan premi kepada warga binaan yang terlibat produksi.

Faisal, warga binaan kasus pencurian dan kekerasan yang kini menjadi barista kafe, mengaku penghasilannya digunakan membantu keluarga di rumah.

“Saya dapat premi, uangnya buat dikirim ke orang rumah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Faris yang mengikuti pelatihan bakery selama enam bulan.

“Premi buat beli kebutuhan sehari-hari, kadang juga bantu keluarga,” katanya.

Salah satu warga binaan yang mengelola usaha mie ayam mengaku sebagian penghasilannya juga ditabung sebagai bekal setelah bebas nanti.

“Saya pakai buat keluarga, buat anak istri di rumah. Sangat terbantu,” tuturnya.

Ketahanan Pangan hingga Pengolahan Sampah

Tak berhenti di sektor UMKM, Lapas Cibinong juga mengembangkan program ketahanan pangan dan pengelolaan limbah terpadu.

Program budidaya maggot menjadi salah satu inovasi unggulan. Sampah organik dapur sekitar 150–200 kilogram per hari diolah menjadi pakan maggot dan pupuk organik.

“Hasil maggot segar bisa mencapai 30 kilogram per hari atau hampir satu ton per bulan,” ujar Budi Muhammad petugas pengelola.

Produk maggot tersebut telah bekerja sama dengan sejumlah mitra industri di Depok dan Gunung Sindur dengan harga jual Rp5.000 per kilogram.

Selain itu, limbah botol plastik PET juga berhasil dikumpulkan hingga 1,7 ton dan dikirim ke perusahaan daur ulang di Bekasi.

“Berapa pun hasilnya pasti diterima perusahaan mitra,” kata Budi.

Di sektor peternakan, Lapas Cibinong mengembangkan ayam KUB, ayam Elhorn, bebek pedaging Peking, lele hingga domba Garut.

Ayam KUB dipilih karena memiliki kemampuan sebagai ayam pedaging sekaligus petelur.

“Produksi telurnya bisa mencapai 200 sampai 250 butir per tahun per ekor,” jelasnya.

Sementara bebek pedaging Peking menjadi komoditas unggulan karena masa panennya singkat, hanya 35 hari dengan berat mencapai 2 kilogram.

Saat ini populasi bebek mencapai sekitar 2.000 ekor dengan panen sekitar 400 ekor setiap minggu.

“Kalau borongan minimal 200 ekor kita jual Rp50 ribu per ekor,” terang Budi

Area pertanian juga dimanfaatkan untuk menanam talas khas Bogor, tanaman hias, hingga budidaya ikan lele guna mendukung kebutuhan pangan internal dan masyarakat sekitar.

Jadi Rujukan Nasional Meski Hadapi Over Kapasitas

Di balik berbagai program pembinaan tersebut, Lapas Cibinong masih menghadapi persoalan over kapasitas. Dari daya tampung sekitar 800 warga binaan, jumlah penghuni saat ini mencapai sekitar 1.900 orang.

Mayoritas penghuni didominasi kasus narkotika yang mencapai sekitar 67 persen.

Meski demikian, Lapas Cibinong terus berupaya membangun sistem pembinaan yang produktif dan berkelanjutan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari UMKM, koperasi hingga perusahaan swasta.

Kerja sama dilakukan dalam pemasaran maggot, pengolahan sampah plastik, distribusi hasil ternak hingga penjualan tanaman hias.

Atas berbagai inovasi tersebut, Lapas Cibinong kini menjadi salah satu rujukan studi tiru bagi lapas dan rutan di berbagai daerah di Indonesia, khususnya dalam pembangunan zona integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Di tengah tembok tinggi dan jeruji besi, Lapas Cibinong mencoba menghadirkan wajah pemasyarakatan yang berbeda — bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi ruang pembinaan, pemberdayaan, dan harapan baru bagi warga binaan untuk kembali produktif saat kembali ke masyarakat.


Penulis : Redaksi

 




Type and hit Enter to search

Close