Bongkar merdeka.com |Magelang,
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SD Kanisius Kenalan, Magelang tahun ini berlangsung dengan cara yang berbeda. Alih-alih menggelar upacara bendera di sekolah, para murid bersama pendamping mengikuti rangkaian kegiatan reflektif di kawasan Peziarahan Sendangsono, Paroki Promasan, pada Senin, 17 Agustus 2026.
Kegiatan yang diikuti 41 murid, 13 pendamping, sejumlah pengurus Peziarahan Sendangsono, serta beberapa orang tua murid tersebut menggabungkan doa, jalan salib, penanaman pohon, dan urmat bendera sebagai bentuk refleksi atas kemerdekaan sekaligus kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Tema yang diangkat adalah “Doa untuk Tanah dan Air Indonesia.” Tema ini lahir dari refleksi pembelajaran para murid SD Kanisius Kenalan mengenai kondisi lingkungan di kawasan Perbukitan Menoreh. Aktivitas pengerukan lahan dinilai berpotensi memengaruhi kelestarian alam dan keberlangsungan sumber air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat dan makhluk hidup di sekitarnya.
Jalan Salib untuk Tanah dan Air
Rangkaian kegiatan diawali dengan mengikuti Ekaristi di gereja. Setelah itu, para peserta berjalan kaki menyusuri jalan berbatu menuju kawasan Sendangsono sambil membawa bendera Merah Putih berukuran kecil dan mendaraskan doa Salam Maria untuk Nusantara.
Dari 14 perhentian Jalan Salib, peserta berhenti di tiga stasi, yakni stasi ketiga, ketujuh, dan kesembilan—tiga titik yang mengingatkan pada peristiwa Yesus jatuh tiga kali ketika memanggul salib menuju Golgota.
Pengalaman tersebut dimaknai sebagai refleksi bahwa manusia pun kerap “jatuh” dalam menjalankan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan alam. Tanah dan air sebagai sumber utama kehidupan justru sering mengalami kerusakan akibat tindakan manusia.
Pada tiga pemberhentian tersebut, doa secara khusus diarahkan kepada tanah, air, dan tanah air Nusantara. Para guru menyampaikan renungan singkat dan mengajak anak-anak menemukan bentuk-bentuk sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.
Pesan utama yang disampaikan kepada para murid adalah bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana dan kehidupan sehari-hari.
Tiga Pohon Mangga: Nuswa, Swatantra, dan Rahayu
Sebagai bentuk konkret dari refleksi tersebut, para murid menanam tiga bibit pohon mangga di sekitar lokasi pemberhentian. Ketiga pohon itu diberi nama Nuswa, Swatantra, dan Rahayu.
*Nuswa* merupakan penggalan dari kata *Nuswantara* atau Nusantara, yang dimaknai sebagai tanah tempat manusia berpijak dan bertumbuh. Nama tersebut menjadi pengingat bahwa tanah tempat manusia hidup harus dirawat.
*Swatantra*, dari bahasa Sanskerta *svatantra*, dimaknai sebagai kemampuan untuk mengatur diri sendiri. Pohon ini menjadi simbol bahwa kemerdekaan dan kebebasan perlu disertai tanggung jawab dan tidak semestinya disalahgunakan.
Sementara *Rahayu*, kata dalam bahasa Jawa, mengandung makna keselamatan, kesejahteraan, dan segala keadaan yang baik. Para peserta memaknainya sebagai harapan bahwa ketika tanah dan air dijaga, kesejahteraan akan menyertai kehidupan seluruh makhluk.
Penanaman berlangsung dalam suasana khusyuk. Para peserta berdiri mengelilingi pohon dan mengarahkan tangan kanan kepada pohon sebagai ungkapan doa dan berkat. Doa diiringi lagu *Satu Nusa Satu Bangsa* dan *Air Sumber Hidup*.
Pupuk kandang fermentasi yang dihasilkan melalui kegiatan ekstrakurikuler **Wiji Thukul** juga digunakan dalam penanaman tersebut.
Anak-anak Memimpin Upacara Bendera
Setibanya di Sendangsono, peserta melanjutkan kegiatan dengan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Adelio, Presiden Republik Anak Kenalan (RAK) ke-38, bertugas sebagai inspektur upacara.
Dalam amanatnya, Adelio mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mendoakan para pahlawan sekaligus menjaga kelestarian tanah air demi kehidupan bersama.
Kabinet Adelio dan Tyan sendiri baru dilantik pada Juni 2026. Dalam momentum peringatan kemerdekaan tersebut, simbol tongkat kepresidenan yang terbuat dari batang pohon palem secara resmi diserahkan kepada presiden RAK yang baru.
Pada kesempatan yang sama, **Leader dan Co-Leader komunitas RAK kecil** dilantik dan diberkati melalui perantaraan **Romo Raditya Reliantoko, Pr.**
Momentum tersebut juga menjadi kesempatan pertama bagi seluruh warga RAK untuk menyanyikan Mars Republik Anak Kenalan, yang diharapkan menjadi penyemangat, pengingat, sekaligus arah bagi seluruh warga komunitas RAK dalam menjalankan tugas dan peran mereka dalam kehidupan bersama.
Syair Mars RAK disusun oleh **Yosef Onesimus Maryono, S.Pd.**, sementara aransemen musik dikerjakan oleh **FX Wahyu Joko Pramodo, S.Pd.**
Kemerdekaan sebagai Kesempatan untuk Belajar Bertanggung Jawab
Bagi SD Kanisius Kenalan, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung melampaui ruang kelas.
Pendidikan, demikian refleksi yang muncul dari kegiatan tersebut, tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal. Pendidikan menjadi lebih nyata ketika anak mengalami sebuah peristiwa dan menemukan sendiri makna dari pengalaman tersebut.
Melalui kegiatan ini, para murid diajak memahami bahwa kemerdekaan bukan semata-mata kebebasan untuk melakukan apa saja. Kemerdekaan justru memberi kesempatan kepada setiap orang untuk belajar mengatur diri dan menggunakan kebebasan demi kebaikan bersama.
Nilai tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran kepemimpinan dalam komunitas Republik Anak Kenalan. Dalam kegiatan *Camping Cabinet (Campinet)* pada 13–14 Agustus 2026, para pengurus belajar bahwa kehidupan komunitas bukan sekadar menjalankan jabatan dan program.
Kepemimpinan berarti menentukan tujuan bersama, berdialog, mengambil peran, bekerja sama, bertanggung jawab, serta mendengarkan demi kebaikan seluruh anggota komunitas.
Melalui peringatan kemerdekaan dengan cara yang berbeda ini, SD Kanisius Kenalan berharap pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kepedulian dan kepekaan anak-anak terhadap kelestarian alam sebagai ruang hidup bersama.
*Tentang Republik Anak Kenalan*
**Republik Anak Kenalan (RAK)** merupakan komunitas siswa di lingkungan SD Kanisius Kenalan yang menjadi ruang bagi para murid untuk belajar mengambil peran, berdialog, bertanggung jawab, bekerja sama, dan menentukan tujuan bersama. Melalui berbagai kegiatan komunitas, anak-anak diberi kesempatan untuk mengalami secara langsung nilai-nilai kepemimpinan, kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Penulis : vid
Editor : Redaksi

Social Footer