Bongkar News

Menanam Harapan di Tengah Ancaman: Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan Bergerak di Sukajaya


 
Bongkar merdeka.com | Bogor

Di tengah kabar berita kebakaran hutan yang terus menghanguskan jutaan hektar hutan di Kalimantan, semangat menjaga alam tak pernah padam di Sukajaya, Ciapus, Kecamatan Taman Sari. Rabu lalu, puluhan anggota Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan turun ke tanah untuk menanam ratusan bibit pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tegas.
 
Menanam di Tanah yang Terancam
 
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Koordinator Aliansi, Ahmad Rohani. Di balik senyum dan semangat para penanam, terselip kekhawatiran mendalam. Para petani di wilayah ini mengaku tak bisa tidur nyenyak belakangan ini. Tanah yang telah mereka garap turun-temurun, kini terancam oleh masuknya korporasi yang mengklaim lahan dengan alasan pembangunan.
 
"Kita ajarkan adik-adik untuk peduli lingkungan. Saya tidak mau alam rusak. Kalau alam tidak dijaga, jangan salahkan jika alam marah kepada kehidupan. Jadilah makhluk yang bermanfaat, jangan jadi manusia rakus dan perusak."  Ahmad Rohani, Koordinator Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan
 
Perlawanan Lewat Bibit Pohon
Ratusan bibit pohon yang ditanam di Sukajaya bukan sekadar tanaman. Setiap batang yang masuk ke tanah adalah perlawanan terhadap pola pikir yang menganggap alam hanyalah sumber keuntungan semata. Di saat hutan Kalimantan habis dilalap api yang diduga kuat terkait praktik pembukaan lahan secara ilegal, kehadiran korporasi di Sukajaya menjadi alarm tersendiri bagi warga dan mahasiswa.
 
"Kami tidak ingin Sukajaya berakhir seperti Kalimantan," ujar salah satu warga yang ikut menanam. "Kami tidak menolak kemajuan, tapi kemajuan tak boleh menginjak-injak hak hidup warga dan merusak alam yang menjadi sumber kehidupan kita."
 
Pembangunan Tanpa Etika
 
Ahmad Rohani menegaskan, kebakaran hutan di Kalimantan dan konflik lahan di Sukajaya adalah dua sisi dari masalah yang sama: ketidakpedulian terhadap alam dan hak rakyat.
 
"Api di Kalimantan adalah peringatan keras. Tapi tampaknya belum cukup banyak yang sadar. Kita masih melihat alam diperlakukan seperti benda dagangan diambil, dihabiskan, lalu ditinggalkan saat rusak. Jika pola ini terus dibiarkan, tak ada yang aman. Tidak ada keuntungan yang sebanding dengan hilangnya tanah dan rusaknya alam." 

Kegiatan menanam pohon ini akan terus dilakukan secara berkala. Lebih dari sekadar hijau-hijauan, pesan yang ingin disampaikan jelas: Tanah adalah kehidupan, bukan komoditas. Alam adalah titipan, bukan warisan untuk dijarah.
 
Saat api masih berkobar di belahan negeri lain, di Sukajaya tangan-tangan muda dan tua bergandengan. Menanam bukan berarti memulai dari awal itu cara mereka menjaga apa yang masih tersisa. Karena satu hal yang semua orang tahu: Ketika alam marah, tak ada tembok yang cukup tinggi untuk melindungi kita.


Penulis : rn
Editor    : Redaksi

 




Type and hit Enter to search

Close